Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 119 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga menaruh perhatian besar pada pelestarian sejarah serta budaya lokal tutur tinular. Hal ini tergambar dari kegiatan sowan dan dialog antara para mahasiswa dengan Mbah Atri Kamiso, salah satu sesepuh dan tokoh masyarakat di Dukuh Sibolong.
Kunjungan ini bertujuan untuk menggali asal-usul dan sejarah penamaan Dukuh Sibolong agar warisan cerita rakyat (folklore) tersebut tidak hilang ditelan zaman dan dapat didokumentasikan dengan baik.
Semangat Sesepuh Menuturkan Sejarah
Dalam silaturahmi yang berlangsung hangat di kediaman Mbah Atri Kamiso tersebut, para mahasiswa tampak sangat antusias menyimak. Terlihat dalam dokumentasi kegiatan, sejumlah mahasiswa yang mengenakan rompi KKN duduk melingkar di ruang tamu berdinding hijau muda, mendengarkan dengan saksama.
Mbah Atri Kamiso, yang mengenakan kemeja biru, tampak penuh semangat menceritakan sejarah desa, bahkan beliau terlihat mengangkat tangan kanannya untuk memperagakan dan mempertegas alur cerita yang sedang dituturkannya kepada para mahasiswa.
Jejak Roro Jonggrang dan Asal Usul “Sibolong”
Berdasarkan penuturan Mbah Kamiso, nama “Sibolong” ternyata memiliki akar sejarah yang sangat menarik dan berkaitan erat dengan legenda populer yang hidup di tengah masyarakat Jawa, yakni kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso.
Menurut cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, di sekitar wilayah tersebut terdapat sebuah gunung atau bukit yang bagian tengahnya memiliki lubang (dalam bahasa Jawa disebut “bolong”). Mbah Kamiso menjelaskan bahwa lubang pada gunung tersebut bukanlah bentukan alam biasa. Konon, gunung itu menjadi berlubang karena diterobos oleh Roro Jonggrang yang saat itu sedang berlari menghindar dari kejaran Bandung Bondowoso.
Peristiwa pelarian Roro Jonggrang yang meninggalkan jejak gunung berlubang itulah yang pada akhirnya menjadi cikal bakal masyarakat setempat menamai wilayah ini sebagai Dukuh “Sibolong”.
Merawat Ingatan dan Identitas Desa
Bagi mahasiswa KKN 119 UIN Sunan Kalijaga, dialog ini memberikan wawasan baru tentang kekayaan kearifan lokal. Cerita rakyat seperti ini dianggap sebagai identitas kultural yang membentuk karakter dan sejarah lisan Dukuh Sibolong.
Melalui pendokumentasian cerita Mbah Kamiso ini, diharapkan generasi muda, baik mahasiswa maupun pemuda asli desa, dapat terus merawat ingatan kolektif tersebut sehingga legenda penamaan Dukuh Sibolong tetap lestari dan bisa menjadi daya tarik budaya tersendiri di masa depan.




