Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 119 UIN Sunan Kalijaga bersama Kepala Dukuh Sibolong melakukan napak tilas sejarah dan budaya lokal dengan mengunjungi salah satu tokoh sesepuh dan seniman setempat, Bapak Jumaryanto. Kunjungan ini membuka tabir legenda epik yang selama ini menjadi asal-usul penamaan wilayah di sekitar Dukuh Sibolong.
Dialog budaya ini berlangsung hangat di kediaman Pak Jumaryanto, di mana nuansa seni sangat kental terasa. Dalam dokumentasi kegiatan, para mahasiswa tampak duduk bersila mendengarkan penuturan sang tokoh dengan saksama, berlatarkan dinding yang dihiasi oleh karya seni wayang kulit dan berbagai perlengkapan kriya tradisional.
Legenda Pengejaran Ratu Boko dan Lahirnya “Sibolong”
Di tengah suasana bengkel seninya yang asri, Pak Jumaryanto mulai mengisahkan folklore atau cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Berbeda dengan versi arus utama yang sering didengar, legenda lokal Dukuh Sibolong menyimpan kisah pertarungan sengit antara Ratu Boko dan kesatria sakti, Bandung Bondowoso.
Menurut penuturan beliau, pada zaman dahulu kala, terjadi sebuah kejar-kejaran hebat di mana Bandung Bondowoso lari dari kejaran Ratu Boko. Dalam pengejaran yang penuh ketegangan tersebut, Ratu Boko melepaskan anak panah saktinya yang diarahkan tepat ke tubuh Bandung Bondowoso.
Namun, dengan kesaktian dan ketangkasannya, Bandung Bondowoso melompat tinggi untuk menghindari serangan mematikan itu. Anak panah Ratu Boko pun meleset jauh dan meluncur deras hingga menembus sebuah gunung.
“Kekuatan anak panah itu luar biasa hingga membuat gunung tersebut berlubang besar. Karena gunungnya bolong tembus ke sisi lain, maka sejak saat itu wilayah ini dikenal dengan nama Sibolong,” jelas Pak Jumaryanto kepada para mahasiswa KKN.
Jejak Lompatan “Jumbleng” dan Tertancapnya Cakra
Kisah epik tidak berhenti di situ. Lompatan besar yang dilakukan Bandung Bondowoso untuk menghindari panah ternyata meninggalkan jejak fisik di bumi. Hentakan kaki yang menjadi ancang-ancang sang kesatria begitu kuat hingga menciptakan sebuah cekungan tanah yang sangat dalam. Oleh masyarakat setempat, cekungan bersejarah tersebut dinamakan Jumbleng.
Setelah berhasil menghindar, Bandung Bondowoso tidak tinggal diam. Ia melakukan serangan balasan untuk menghambat Ratu Boko. Bandung Bondowoso mengerahkan pusaka andalannya yang berupa senjata Cakra.
Sayangnya, lemparan Cakra tersebut juga meleset dari sasarannya. Senjata sakti itu justru melayang dan menghantam gunung lain yang ada di dekatnya. Cakra tersebut menancap kuat dan bersemayam di sana selamanya. Karena menyimpan pusaka Cakra milik Bandung Bondowoso, gunung tersebut kemudian dinamai Gunung Cokro.
Melihat serangan balasan yang dahsyat dan menyadari kesaktian lawannya, Ratu Boko akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengejarannya terhadap Bandung Bondowoso. Pertarungan pun usai, namun jejak-jejaknya abadi menjadi nama-nama tempat yang dikenal hingga hari ini.
Melestarikan Ingatan Kolektif Desa
Bagi mahasiswa KKN 119 UIN Sunan Kalijaga, cerita yang dituturkan oleh Pak Jumaryanto bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan identitas kultural yang sangat berharga. Kepala Dukuh Sibolong yang turut hadir juga berharap agar legenda “Sibolong”, “Jumbleng”, dan “Gunung Cokro” ini dapat terus diceritakan kepada generasi penerus.
Kunjungan budaya ini menjadi salah satu program unggulan KKN 119 dalam rangka memetakan potensi kearifan lokal (local wisdom) yang dapat dikembangkan sebagai narasi daya tarik wisata budaya di Dukuh Sibolong pada masa mendatang.




