Sebagai wujud penghormatan kepada para pendahulu dan upaya melestarikan budaya lokal, warga Padukuhan Sibolong melaksanakan tradisi Ruwahan pada Kamis (12/2). Kegiatan yang dipusatkan di Balai Padukuhan ini dihadiri oleh puluhan kepala keluarga dan tokoh masyarakat setempat.
Ruwahan di Sibolong dimaknai sebagai momentum spiritual untuk mendoakan arwah para leluhur, orang tua, dan sanak saudara yang telah tiada, sekaligus mempererat kerukunan antarwarga yang masih hidup.
Doa Bersama dalam Kesederhanaan
Acara berlangsung dengan suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Para warga laki-laki tampak duduk bersila memenuhi area pertemuan, mengenakan busana rapi seperti baju batik atau baju koko lengkap dengan peci.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tahlil, dan ditutup dengan doa bersama. Lantunan doa yang dipimpin oleh Bapak Ustadz Hasanudin, dan dilanjutkan dengan Ceramah Oleh Bapak Ustadz Toyib S.Ag menggema, memohon kepada Allah SWT agar memberikan ampunan dan ketenangan bagi para leluhur Padukuhan Sibolong
Tradisi “Tenongan” Simbol Kebersamaan
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam gelaran budaya ini adalah hamparan “Tenongan” atau hantaran makanan yang tertata rapi di hadapan para warga. Uniknya, hantaran tersebut dibungkus menggunakan tenong yang terbuat dari bambu, yang menambah kesan tradisional dan ramah lingkungan.
Isi dari Tenongan tersebut biasanya berupa makanan dan buah buahan khas pedesaan yang disiapkan secara gotong royong oleh keluarga masing-masing. Setelah didoakan, bungkusan tersebut kemudian ditukar dan dibagikan kembali kepada warga yang hadir.
“Ini adalah tradisi turun-temurun yang wajib kita jaga. Selain mengirim doa, intinya adalah sedekah dan kembul bujana (makan bersama).” ujar Andre Priyanto, Kepala Dukuh Sibolong.
Guyub Rukun Warga Sibolong
Bagi masyarakat Sibolong, Ruwahan bukan sekadar ritual, melainkan “lem perekat” sosial. Di tengah kesibukan masing-masing, momen seperti inilah yang menyatukan warga untuk duduk bersama, bertukar kabar, dan memupuk rasa persaudaraan (Silaturahmi).
Dengan tetap dilaksanakannya tradisi Ruwahan ini pada tahun 2026, Padukuhan Sibolong membuktikan komitmennya untuk tidak melupakan akar budaya di tengah arus zaman yang semakin modern.




